RENUNGAN ORANG PILIHAN
Embun Taushiyah – 28 September 2004
Saudaraku,
Berhentilah sejenak. Duduklah. Hirup kuat-kuat udara,
lalu hembuskan kembali dengan perlahan. Sesungguhnya
kita butuh beristirahat. Butuh melonjorkan kaki
sejenak. Butuh air dingin walau seteguk. Dan butuh
berhenti untuk mendapatkan kekuatan kembali.
Saudaraku,
Tahulah betapa pegalnya kaki-kaki kalian menapaki
jalanan ibukota dalam aksi-aksi yang digelar. Tahulah
betapa sesaknya nafas kalian
menyuarakan kebenaran di hadapan kezhaliman penguasa.
Tahulah betapa sengat mentari telah membuat kulit
kalian kian legam. Dan tak terkata deras peluh yang
mengucur. Tak terkira berapa rupiah telah terpakai.
Tak terhitung waktu yang berjalan melewati rapat-rapat
yang melelahkan. Pengorbanan antum, Yaa ikhwah
fillah, cukuplah 4JJI yang akan
membalasnya
Saudaraku
Dalam peristirahatan ini, mari sama-sama kita
renungkan, siapa sebenarnya diri kita. Apa hakikat
kita wahai ikhwah? Siapa kita hingga menyangka kitalah
yang terbaik dia antara semua? Siapa kita hingga
sesumbar bahwa kita-lah yang lebih tahu daripada yang
lainnya?
Saudaraku
Banyak-banyaklah beristighfar. Kita boleh bangga
karena 4JJI telah memasukkan kita ke dalam barisan
ini. Kita harus bersyukur bahwa tak semua orang bisa
terpilih. Ya, kita adalah manusia-manusia pilihan.
Yang tak sembarang menerima pembelajaran. Yang tak
asal-asalan diikutsertakan. Kita boleh bangga, Ikhwah.
Sebab kita-lah orang-orang pilihan
Saudaraku
Tundukkan dalam-dalam wajah dan hatimu di hadapan-Nya.
Hakikat
orang-orang pilihan bukanlah berarti kita bisa
menyombongkan diri. Predikat orang-orang pilihan
tidaklah bermakna kita bisa memandang rendah semuanya.
Orang-orang pilihan bukanlah yang petantang-petenteng
menganggap yang lainnya tak bisa apa-apa.
Tapi orang-orang pilihan, wahai Saudaraku,
adalah yang mampu menerima amanah sebesar dan seberat
apapun. Orang-orang pilihan adalah yang selalu
merendah hati, ibarat bulir padi yang semakin merunduk
kala ia matang. Orang-orang pilihan adalah yang selalu
berusaha meluruskan kesalahan, pun tak marah kala ia
diingatkan. Orang-orang pilihan adalah yang dapat
dipercaya, yang kuat dan tegar menghadapi rintangan,
dan selalu berfikir positif bahwa semua ini bukanlah
beban. Orang-orang pilihan adalah yang sanggup
membuktikan bahwa dirinya memang benar-benar orang
yang dipilih dengan tidak sembarangan.
Saudaraku
Adakah kita benar-benar merupakan orang-orang pilihan?
Orang-orang yang dapat dipercaya mengemban amanah,
yang bumi serta gunung-gunung enggan untuk
menerimanya? Atau jangan-jangan kita telah tertipu
oleh panggilan itu? Jangan-jangan tanpa sadar kita
terjebak label dan telah merasa cukup hebat dengan itu
semua? Jangan-jangan kita menyangka telah berbuat
baik, sementara tak setitikpun perbuatan kita bernilai
di sisi 4JJI?
Katakanlah,Apakah akan Kami
beritahukan kepadamu tentang orang-orang yang paling
merugi perbuatannya? Yaitu orang-orang yang telah
sia-sia perbuatannya dalam kehidupan dunia ini,
sedangkan mereka menyangka bahwa mereka berbuat
sebaik-baiknya. (QS. Al Kahfi : 103-104).
Na’fudzubillaahi min dzaalik.
Saudaraku,
Predikat itu tidaklah boleh membuat kita kemudian
merasa aman dari azab 4JJI. Sapaan itu tidaklah
mengesahkan bahwa kita boleh bersantai-santai. Label
orang-orang pilihan bukanlah legitimasi bahwa kita
sah-sah saja berbuat seenaknya, berlaku sombong dan
merendahkan yang lainnya.
Padahal saudaraku, siapa tahu di luar sana
ternyata jauh lebih banyak orang yang layak mendapat
predikat itu? Siapa mengira bahwa mungkin saja label
ini dapat menjadi fitnah dan bumerang bagi diri kita
di kemudian hari?
Maka saudaraku,
Teruslah merenungi hakikat orang-orang pilihan itu.
Janganlah berhenti memuhasabahi diri sebelum semuanya
terlambat. Dan senantiasalah dekatkan jiwamu pada
Penguasa yang menggenggamnya. Orang-orang pilihan
harus bisa membuktikan bahwa ia memang layak mendapat
predikat itu. Orang-orang pilihan harus mampu
menunjukkan keoptimalan usahanya. Orang-orang pilihan
tidaklah boleh men-judge yang lain seenaknya,
menganggap rendah, bahkan merasa dirinya yang paling
baik. Orang-orang pilihan bukanlah barisan penggembira
yang tak mau bertanggung jawab terhadap apa yang tlah
ia perbuat. Bukan yang keasyikan bercanda, lepas
tertawa-tawa, dan menganggap enteng apa yang sudah
ditaklifkan kepadanya. Bukan, Bukan seperti
itu tipe orang-orang pilihan,
Saudaraku
Orang-orang pilihan adalah yang tak pernah mengeluhkan
jauhnya perjalanan. Orang-orang pilihan adalah yang
tak cepat putus asa ketika menghadapi rintangan dan
ancaman. Orang-orang pilihan adalah yang tegar ketika
cobaan-Nya diturunkan. Orang-orang pilihan adalah yang
selalu mengkritisi kezhaliman dan kesalahan, tapi
sekaligus juga tak pernah keberatan ketika mendapat
teguran dan kritikan.
Saudaraku,
Renungkanlah. Adakah kita benar-benar layak menjadi
orang-orang pilihan itu? Mari, jawab saja dengan
pembuktian.
“Hai orang-orang yang beriman, barang siapa di
antara kamu yang murtad dari agamanya, maka kelak
Allah akan mendatangkan suatu kaum yang Allah
mencintai mereka dan mereka pun mencintai-Nya, yang
bersikap lemah lembut terhadap orang yang mukmin, yang
bersikap keras terhadap orang-orang kafir, yang
berjihad di jalan Allah, dan yang tidak takut kepada
celaan orang yang suka mencela. Itulah karunia Allah,
diberikan-Nya kepada siapa yang dikehendaki-Nya, dan
Allah Maha Luas (pemberian-Nya) lagi Maha
Mengetahui.” (QS. Al-Maidah:54)
Bukan dakwah yang membutuhkan kita, tapi kitalah yang
membutuhkan dakwah.
“BERGERAK ATAU TERGANTIKAN!!”
dari millist kmbi_itats@yahoogroups.com
kiriman dari :Febry